Sabtu, 29 Agustus 2015

How are you, Ex-moodbooster

Edit Posted by with No comments
Apa kabar kamu yang pernah mecuri perhatianku?
Tiba-tiba aku teringat tentangmu.
Mungkin aku merindukan saat-saat itu.
Sudah lama ku tak jumpa denganmu..
Mungkinkah kamu ingat padaku?
Aku dan kamu memang tidak begitu dekat.
Kita pernah berbicara hanya sebentar saja.
Kita pernah bersama dalam satu lingkungan.

Kamu..
Bagiku kamu masih misterius,
mungkin itulah yang membuatku masih penasaran
tak apa, aku menyukai jenis pertemanan kita..
Pertemanan ? ya sebut saja begitu.
Aku memang membatasi diriku denganmu dan pria yang lain saat itu
Awalnya kamu, yang ingin ku tau lebih lanjut.
Mungkin memang harus begini

Jadi, aku hanya masih ingat tentang kamu
dan segala tingkah serta rasa kekonyolan terhadap diriku
yang sempat mengagumi mu diam-diam
maafkan aku karena itu
maaf pernah mencuri pandang diam-diam
untuk waktu yang sedikit lama

biarlah kamu, tetap kuingat seperti ini saja
sebagai orang yang pernah mencuri perhatianku
sebagai orang yang pernah mewarnai ceritaku
semoga kalau kita jumpa lagi,
aku dan kamu bertemu dalam keadaan yang lebih baik.
walau pasti akan beda rasanya dengan yang dulu.
aku sudah selesai denganmu, sudah kuputuskan itu.
Jadi, jika kita jumpa, aku tak lagi ingin mengetahuimu lebih lanjut.
hanya mengingatmu sebagai...
seseorang yang pernah kukagumi.
begitu saja :)

Minggu, 16 Agustus 2015

Tentang Kita

Edit Posted by with No comments
Sudah beberapa kali aku berniat menuliskan tentang kita. Beberapakali juga niat itu hanyalah sekedar niat. Mungkin kali ini akan kucoba mewujudkan niat itu agar pikiran-pikiran ini terbebas dari dalam pemikiran pemikiranku. Supaya lebih lega karena mengeluarkan beberapa isi memori yng tertuang dalam tulisan. Yang entah nanti bila aku membaca kembali tulisan ini , keadaan mungkin sudah sangat berbeda dari apa yang kurasakan malam ini. Ini cerita singkatnya..
Tentang kita, bagian 1 :
Aku mengenalmu karena kita berada di sekolah menengah atas yang sama yang terletak di tengah kota Jogja, jalan gadean 5, Ngupasan, Yogyakarta. Aku benar-benar melihatmu setelah hampir satu semester bersekolah disana. Kelasku diujung utara dan kelasmu diujung selatan. Sebelumnya bukan kamu, orang yang ingin aku kenal lebih lanjut. Singkatnya malah jadi kamu. Kamu meminta nomor hp ku lewat media sosial waktu itu. Berpindah kemudian berkirim pesan singkat. Kemudian kamu benar-benar menyapa-menawariku pulang bersama-berbincang dan akhirnya kita memiliki ikatan tidak resmi yang disebut “pacaran”.



Tentang kita, bagian 2 :
Tak terasa sudah 2 semester jadi siswa pelajar kota Yogyakarta di sma itu. Penjurusan pun dimulai. Aku masuk kelas IPA dan kamu dikelas IPS. Ditahun kedua masa SMA ini mungkin yang paling berwarna bagiku. Dimulai dari karena penjurusan, sebagian temanmu menjadi teman sekelasku, begitu juga beberapa temanku yang kemudian jadi teman sekelasmu. Kamu tau persis, apa komentar mereka terhadap kita. Komentar semacam ini : “Kok bisa kalian jadian, padahal sifat kalian jelas-jelas beda..” atau “Kamu anteng, dia berisik. Kamu agak pintar, dia kurang pintar. Kamu gak pernah telat, dia biasa aja telat. Kamu patuh aturan pakai seragam, dia seragam sesukanya sendiri. Kamu selalu duduk di barisan yang termasuk depan, dia selalu duduk di belakang.” dan semacam itu sudah banyak mulut yang mengatakan. Memang benar, kitapun tahu persis kalau kita memang berbeda, dan saat itu pula kamu enjoy saja.
Ditahun ini pula, aku benar-benar merasakan diperlakukannya spesial aku olehmu. Kejutan kecil tak jarang kamu berikan. Kita sering janjian pulang sekolah bersama, tak jarang setiap pulang lebih awal kamu mengajakku makan bersama dulu. Setiap akhir minggu pun kita juga keluar bersama. Berkat kamu, aku yang anak rumahan ini yang sebelumnya belum begitu mengenal rute jalanan kota jogja menjadi lebih akrab dan hafal dengan jalanan kota jogja. Denganmu, kita telusuri setiap sudut kota jogja yang istimewa ini, yang kamu sering meledekku “kamu kan yang dari kecil tinggal di jogja (aslinya bantul) masak kamu nggak tau sih. Aku yang dari pindahan pelosok (sedayu) aja ngerti.. (dia bukan asli jogja, lahir di sragen, pindah jogja kelas 6 SD)”. Berkat dia, aku jadi lebih banyak hafal. Rasanya sampai kehabisan ide jika saat keluar : tempat makan mana yang belum pernah kita datangi saat itu.
Diwaktu ini pula kamu dengan bangganya mengenalkan aku ke beberapa temanmu yang terdahulu. Kamu sampai-sampai jadi ingin bisa main gitar dan belajar gitar karena aku pingin dinyanyikan sebuah lagu yang akhirnya dengan belajar kilatmu, kamu menyanyikan lagu yang ingin kudengar itu. Kamu paling romantis waktu itu.  Kamu pun juga tak lupa membawaku ke kedua kakak perempuanmu. Kakak pertamamu adalah tenaga kesehatan yang memiliki suami seorang polisi. Kakak keduamu yang beda 2 tahun dari mu kuliah tahun pertama di fakultas pendidikan – calon guru. Kamu juga membawaku bertemu kedua orang tuamu. Walaupun pertamakali aku datang, aku dikenalkan dihadapan orangtuamu hanya sebagai teman saja, karena kamu memang belum boleh pacaran. Begitu juga aku, mengenalkanmu ke teman-teman baikku yang terdahulu, mengenalkanmu ke orangtua ku. Benar-benar bagian madu manisnya hubungan awal pacaran.
Tentang kita, bagian 3:
Tahun senior alias tahun terakhir masa SMA pun tiba, Diawal hingga pertengahan tahun ini, kamu mulai membuatku kecewa dengan beberapa tingkahmu. Saat kamu malah lebih memprioritaskan sekumpulan organisasi illegal yang tiap SMA pasti punya, buat anak-anak yang ingin dapat perhatian mungkin. Kamu juga pernah terkena luka sayat di sepanjang mata kaki karena ulahmu dan mereka. Bukannya sering belajar malah bertingkah cari perhatian.. Les diluar sekolah yang sudah dibiayai orangtuamu pun juga jadi sia-sia karena kamu sering absen. Pukulan pertama yang menyakitkan aku pun dimulai.. Kita serasa jauh dan seorang teman menceritakan padaku gossip tak enak tentang dirimu yang dekat dengan adik kelas. Tetapi kita bisa lalui masalah itu. Walau yang kurasakan ditahun terakhir jadi pelajar ini kamu jadi lebih cuek, sikapmu yang bangga padaku rasanya mulai luntur. Masa ujian berlalu, saat masa kelulusan pun kita berbeda. Kamu dan teman-temanmu merayakannya dengan mencorat-coret seragam, sementara aku bukan termasuk yang seperti itu. Yah. Berbeda pandangan.
Malam promnight pun kamu php in aku, yang katamu akan datang denganku ternyata kamu malah ikut ke bandung dengan orangtuamu.. tak apa sebenarnya, hanya saja tau sendiri lah pasti kecewa.. Jadilah aku pergi dengan sahabatku dimalam itu.
Moment cari universitas.. kita dekat kembali. Kamu perhatian, kamu sangat mendukungku, menyemangati aku yang ikut test ujian masuk. Heranku kamu tidak tertarik ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Tanpa usaha apa-apa kamu terima saja masuk di universitas pak ahmad. Kamu memilih jurusan di subyek yang termasuk kesukaanku.. Kamu memilih di fakultas pendidikan, yang dalam pikiran orang kebanyakan pasti akan menjadi seorang guru. Kamu jadi seorang guru? Pasti keren sekali, begitulah anganku waktu itu.
Tentang kita, bagian 4:
Kita sama-sama jadi mahasiswa baru sekarang, setelah melewati proses ospek yang melelahkan. Tentu saja kita akan jarang bertemu seperti dulu. Kampus kita pun tidak dekat. Kampusmu termasuk di kota, kampusku berada di gamping, sleman. Kamu di universitas, dan aku di politeknik kesehatan. Suasana baru, teman-teman baru, sensasi baru. Jadi mahasiswa di tempatku kuliah tidaklah seperti yang kubayangkan. Betul-betul dengan jadwal seperti sekolah SMA yang fullday. Yah.. beginilah kalau bukan di universitas.
Kita tetap berkomunikasi melalui hp. Bertemu denganmu seminggu sekali saat weekend saja rutinnya, namun kadang-kadang tidak harus saat weekend. Sempat ada masalah juga saat tahun awal jadi mahasiswa. Kamu jadi kurang terbuka, terbukti saat aku stalk sosial media. Ada foto kamu dan teman-teman barumu yang bermain bersama dan ada juga foto kamu yang hanya berdua dengan gadis lain dan terlihat mesra. Sial, aku cemburu sekali saat itu. Kecewa karena kamu tidak menceritakan padaku kegiatanmu, dan karena tingkahmu di dalam foto itu. Selama kita berhubungan yang berarti sudah 3 tahun disaat ini, kamu tak pernah berfoto selfie hanya benar-benar berdua dengan gadis lain kecuali kakakmu. Dimulai darisitu kita merenggang. Rasanya kita hanya terbiasa bersama saja. Walaupun masalah itu kemudian berhasil kita lalui. Menurut dari sisi pandangku, kamu sudah berbeda.
Semester 2 dan 3 berlalu. Kita berhubungan baik. Kamu selalu main kerumahku minimal seminggu sekali. Seperti sudah menjadi kebiasaan. Singkatnya, di hampir penghujung semester 4.. Kuliahku memang menuntut wajib praktik karena sekolah vokasional, karena itu, aku betul-betul disibukkan saat praktik klinik tiba. Di PKK 2 ini, aku yang juga sibuk, kamu yang juga sibuk persiapan UAS (yang aku tahu persis pasti tugas-tugasmu menumpuk di akhir) benar terjadi. Kita tidak berkomunikasi selama seminggu. Benar-benar tidak ada komunikasi. Saat aku mulai menyadari dan lelah menunggu. Aku menghubungimu duluan. Kita bicarakan dan kita bertemu. Yang kebetulan karena bulan ramadhan juga. Kita buka puasa bersama hanya dua kali. Kita bertemu dalam sebulan juga mulai benar-benar minimal. Saat-saat krisis situasional seperti inilah memang rentan. Setiap brtemu denganmu rasanya setelah kita bertemu tak ada kesan apa-apa lagi. Kamu tak mau terbuka denganku, tak lagi dengan semangat menceritakan dan berbagi kisah denganku. Aku dan kamu benar-benar hanya jadi dua orang yang hanya karena kebiasaan saja bertemu. Aku dan kamu menurutku sudah tidak ada/tidak mengerti apa yang ada dalam hati kita. Benar-benar tak kurasakan spesialnya bersamamu. Tak banyak getar sayang yang dulu sungguh terasa bila kita jumpa atau berkomunikasi. KAmu seolah hanya jadi teman biasa. Yang mengetahui tentang aku hanya di permukaan.
Keadaan memburuk. semakin krisis kepercayaan, krisis komunikasi, krisis segalanya tentang aku dan kamu, akhirnya hari itu kita bertemu. Itupun aku yang menginginkan kejelasan tentang hubungan kita. Aku betul-betul menunggu lama, hingga aku lelah dan aku yang mengajak kita bicara serius duluan. Bertemulah kita, berbicaralah kita mengenai sudut pandang masing-masing. Kamu bilang, kamu memang sengaja tidak menghubungiku, memang sengaja tdak berkomunikasi denganku. Kamu mulai bilang lagi, hal yang dulu sangat sakit jika kamu beritahu  padaku, ungkit lagi rasa pesimismu : Kita nantinya tak bisa bersama. Perbedaan-perbedaan sifat serta pandangan kita pun kamu ungkapkan. Padahal dulunya itu bukan hal yang kamu permasalahkan. Dulunya walau kita sangat berbeda sifat, kita saling melengkapi, berbagi dan mengajarkan.
Saat aku menemuimu kali ini, aku memang sudah berniat. Sudahi saja karena aku juga benar-benar lelah mempertahankanmu, yang kamunya kurang menghargaiku. Benar-benar lelah menunggumu. Ekspetasiku yang terlalu tinggi untukmu itu yang membuatku jadi sangat kecewa. Terjadilah . Kuputuskan kuakhiri, aku yang memperjelas. Kamu yang mendukung. Kita selesai sampai disini. Lega juga karena kita putus baik-baik. Begitulah akhirnya. Tamat. Game over.
Kuranglebih seperti itulah versi singkatnya. Tak mampu bila kukisahkan dengan detail, karena banyak yang telah terjadi. Versi sudut pandangku. Sudah sebulan aku berakhir dengannya. Malam ini, 16 Agustus 2015 telah kuselesaikan. Akhirnya telah kutulis juga kuungkapkan lewat kata-kata disini. Rasanya lebih lega. Aku tidak menangis sampai mataku sembab seperti dulu. Aku hanya merasa lebih lega. Mengetahui kamu yang sekarang memang sudah jadi seperti seorang yang tidak kukenal sebelumnya. Walaupun kita putus baik-baik. Nyatanya sampai saat ini kamu tak menghubungiku. Ya sudah. Sesalku kenapa saat kita putus justru aku membawamu ketempat favoritku, sambil memakan makanan camilan favoritku juga. Di villa crepes, itulah saat terakhir aku melihatmu langsung. Kapan lagi aku bertemu denganmu? Aku tak tau. 

Pada akhirnya, tak pernah hati ini mampu menyalahkanmu sebagai cinta yang salah. Sebab, jika memang kamu suatu kesalahan, mengapa mencintaimu terasa begitu benar? Pada akhirnya, doa menjadi ungkapan paling sederhana dalam ukuran cinta yang tak mengenal angka - kolaborasirasa

Sebulan ini.. terkadang memang masih melintas kamu dianganku, masih juga bermimpi tentangmu. Tak apa.. ini proses dan harus kujalani. Setiap awal pasti ada akhirnya. Aku belajar banyak dari kamu juga. Terimakasih atas semua kenangan yang kita buat. Aku mengakuimu sebagai cinta yang paling terasa dimasa mudaku, dimasa remajaku. Aku menuliskan tentangmu disini, yang mungkin tak akan pernah kamu ketahui. Aku benar-benar sudah merasa lebih baik. Sekarang. Entah dengan siapa lagi. Aku telah pasrah. Yang kupercayai, Tuhan pasti akan menggantikanmu dengan yang lebih baik. Insyaallah.. Doaku untukmu , sesuai permintaan terkhirmu juga tak lupa kuadukan pada Yang Maha membolak-balikkan hati. Semoga kita akan lebih baik lagi, bertemu dengan keadaan yang lebih baik. :’) Maaf dan terimakasih.
~ aku yakin, keadaan akan sangat berbeda setelah ini. Namamu nanti, akan terasa sangat biasa bila kudengar. Kenangan tentangmu, sudah kujadikan pelajaran dan  hanya akan menjadi sebatas masa lalu. Kepada entah siapa masa depanku, jangan cemburu dengan tulisan ini :’) Aku memang pernah menyayanginya. Tetapi pasti rasaku padamu nanti, calon imamku, sepenuhnya padamu karena izin Allah juga. Aamiin.

Kamis, 05 Februari 2015

why...?

Edit Posted by with No comments
Sebenarnya sudah sejak lama ingin kuungkapkan segala rasa yang mengganjal di hati ini melalui sebuah tulisan..

Mungkin aku memang tak pandai merangkai kata untuk mendapatkan perhatianmu, tetapi semoga kamu cukup tahu maksudku, paham betul dengan apa yang ingin kusampaikan ini..

Kawan, terkadang aku juga sadar, berpikir-pikir apa aku yang tak dapat beradaptasi atau mengikuti arus trend di kalangan teman-temanku ini, atau memang yang terjadi kini memang tidak pas dengan nilai nilai hati nurani ~

Aku hanya ingin mengajukan 2 pertanyaan untukmu…

       1.    Teman, haruskah kita menuliskan semua kegiatan kita di  
             media sosial ?
       2.   Hei, kenapa seolah begitu mendewakan foto ?

Jawab.. Butuh waktu untuk menjawab? Masih pikir-pikir ? Mulai bosan mengikuti opiniku baca sampai akhir?

Langsung ke point aja lah ya…
Ganti gaya bahasa biar nggak ribet.
Oke, menurutku pola berkomunikasi kini yang paling dominan emang melalui HP lebih khususnya chatting, punya akun sosmed yang lagi trend itu bagai nggak terpisahkan dari hidup sehari-hari. Kalo nggak punya akun ? ya bakal ketinggalan info dari temen-temenmu..

Lebih ke intinya lagi.. sebenernya aku kurang suka, bahkan mulai muak waktu buka akun yang isinya cuma humble brag -.-
Tapi dengan itulah kamu tau kabar dan keadaan temen-temenmu ter up date. Miris..

Sebagian besar yang di share, yang dipentingin itu bagai cara menyombongkan diri secara tak langsung.
Jujur aja… bahkan terkadang kamu pergi ke suatu tempat tu yang paling kamu prioritaskan cuma demi foto-foto nya. Kamu ingin didalam fotomu itu terlihat sempurna yang nanti akhirnya pasti di share sana sini >.<


YAhh.. oke memang anggapan kegiatan kayak gitu nggak salah. Iya nggak salah. Tapi menurutku mempengaruhi gaya hidup, kesehatan rohani dan jasmani :3
Mempengaruhi perilaku dan tingkah laku.

Sederhana aja nih, mengakulah kalau kamu pernah kayak gini. Kamu mengukur kehebatan/kebahagiaan temenmu kini sering diliat dari foto nya. Semakin sering dia ganti DP, ditempat-tempat yang beda-beda, entah selfie sendiri, rame-rame sama temennya mamerin apa aja lah makanannya, mobilnya, peliharaannya, kecantikannya ._.
maka semakin kamu juga pengin kayak gitu.
Jadilah kamu berusaha punya hp yang fitur kameranya top dan sering foto & share foto juga. Semacam nggak mau kalah dari temenmu.

Terus status tuh.. secara nggak sadar kadang juga berisi kesombongan terselubung. Semacam jadi sok sibuk lah, kalo beneran sibuk ya harusnya ga sempet buka hp bikin status update lagi dimana aja di share. Update masih dikampus sampe hari petang lah, lagi nugas, lagi puasa, lagi habis baca quran dsb.. Dari foto-foto dan status yang di share, terus kamu jadi lebih menghargai si Dia yang menurutmu lebih dari kamu.  Tuuh kan ? mempengaruhi sifat dan cara pandang.  


Jadi, berhati-hatilah membagikan detail kegiatan ibadahmu di media social. Kalo gak hati-hati bisa-bisa kamu dianggap riya’ dan sombong. Ibadah itu urusanmu sama Tuhan kan? Orang sedunia nggak perlu tau kmu ngapain aja, asal Tuhan udah mencatatnya, habis perkara.
Bukankah keikhlasan sebuah ibadah tercermin saat kamu berusaha menyembunyikan amalanmu dari orang lain ?


Kesimpulannya, semua itu emang tergantung niat waktu nge share dan pribadi masing-masing orang. Kalau kamu udah dewasa, hal-hal semacam itu pasti nggak kamu lakuin. Akhir kata, maaf bila tulisanku membuat kurang berkenan di hati. Semoga bermanfaat kawan. :)