Tentang kita, bagian 1 :
Aku mengenalmu karena kita berada di sekolah
menengah atas yang sama yang terletak di tengah kota Jogja, jalan gadean 5,
Ngupasan, Yogyakarta. Aku benar-benar melihatmu setelah hampir satu semester
bersekolah disana. Kelasku diujung utara dan kelasmu diujung selatan. Sebelumnya
bukan kamu, orang yang ingin aku kenal lebih lanjut. Singkatnya malah jadi
kamu. Kamu meminta nomor hp ku lewat media sosial waktu itu. Berpindah kemudian
berkirim pesan singkat. Kemudian kamu benar-benar menyapa-menawariku pulang
bersama-berbincang dan akhirnya kita memiliki ikatan tidak resmi yang disebut
“pacaran”.
Tentang kita, bagian 2 :
Tak terasa sudah 2 semester jadi siswa pelajar kota
Yogyakarta di sma itu. Penjurusan pun dimulai. Aku masuk kelas IPA dan kamu
dikelas IPS. Ditahun kedua masa SMA ini mungkin yang paling berwarna bagiku.
Dimulai dari karena penjurusan, sebagian temanmu menjadi teman sekelasku,
begitu juga beberapa temanku yang kemudian jadi teman sekelasmu. Kamu tau
persis, apa komentar mereka terhadap kita. Komentar semacam ini : “Kok bisa
kalian jadian, padahal sifat kalian jelas-jelas beda..” atau “Kamu anteng, dia
berisik. Kamu agak pintar, dia kurang pintar. Kamu gak pernah telat, dia biasa
aja telat. Kamu patuh aturan pakai seragam, dia seragam sesukanya sendiri. Kamu
selalu duduk di barisan yang termasuk depan, dia selalu duduk di belakang.” dan
semacam itu sudah banyak mulut yang mengatakan. Memang benar, kitapun tahu
persis kalau kita memang berbeda, dan saat itu pula kamu enjoy saja.
Ditahun ini pula, aku benar-benar merasakan
diperlakukannya spesial aku olehmu. Kejutan kecil tak jarang kamu berikan. Kita
sering janjian pulang sekolah bersama, tak jarang setiap pulang lebih awal kamu
mengajakku makan bersama dulu. Setiap akhir minggu pun kita juga keluar bersama.
Berkat kamu, aku yang anak rumahan ini yang sebelumnya belum begitu mengenal
rute jalanan kota jogja menjadi lebih akrab dan hafal dengan jalanan kota
jogja. Denganmu, kita telusuri setiap sudut kota jogja yang istimewa ini, yang
kamu sering meledekku “kamu kan yang dari kecil tinggal di jogja (aslinya
bantul) masak kamu nggak tau sih. Aku yang dari pindahan pelosok (sedayu) aja
ngerti.. (dia bukan asli jogja, lahir di sragen, pindah jogja kelas 6 SD)”.
Berkat dia, aku jadi lebih banyak hafal. Rasanya sampai kehabisan ide jika saat
keluar : tempat makan mana yang belum pernah kita datangi saat itu.
Diwaktu ini pula kamu dengan bangganya mengenalkan
aku ke beberapa temanmu yang terdahulu. Kamu sampai-sampai jadi ingin bisa main
gitar dan belajar gitar karena aku pingin dinyanyikan sebuah lagu yang akhirnya
dengan belajar kilatmu, kamu menyanyikan lagu yang ingin kudengar itu. Kamu
paling romantis waktu itu. Kamu pun juga
tak lupa membawaku ke kedua kakak perempuanmu. Kakak pertamamu adalah tenaga
kesehatan yang memiliki suami seorang polisi. Kakak keduamu yang beda 2 tahun
dari mu kuliah tahun pertama di fakultas pendidikan – calon guru. Kamu juga
membawaku bertemu kedua orang tuamu. Walaupun pertamakali aku datang, aku
dikenalkan dihadapan orangtuamu hanya sebagai teman saja, karena kamu memang
belum boleh pacaran. Begitu juga aku, mengenalkanmu ke teman-teman baikku yang
terdahulu, mengenalkanmu ke orangtua ku. Benar-benar bagian madu manisnya
hubungan awal pacaran.
Tentang kita, bagian 3:
Tahun senior alias tahun terakhir masa SMA pun
tiba, Diawal hingga pertengahan tahun ini, kamu mulai membuatku kecewa dengan
beberapa tingkahmu. Saat kamu malah lebih memprioritaskan sekumpulan organisasi
illegal yang tiap SMA pasti punya, buat anak-anak yang ingin dapat perhatian
mungkin. Kamu juga pernah terkena luka sayat di sepanjang mata kaki karena ulahmu
dan mereka. Bukannya sering belajar malah bertingkah cari perhatian.. Les
diluar sekolah yang sudah dibiayai orangtuamu pun juga jadi sia-sia karena kamu
sering absen. Pukulan pertama yang menyakitkan aku pun dimulai.. Kita serasa
jauh dan seorang teman menceritakan padaku gossip tak enak tentang dirimu yang
dekat dengan adik kelas. Tetapi kita bisa lalui masalah itu. Walau yang
kurasakan ditahun terakhir jadi pelajar ini kamu jadi lebih cuek, sikapmu yang
bangga padaku rasanya mulai luntur. Masa ujian berlalu, saat masa kelulusan pun
kita berbeda. Kamu dan teman-temanmu merayakannya dengan mencorat-coret
seragam, sementara aku bukan termasuk yang seperti itu. Yah. Berbeda pandangan.
Malam promnight pun kamu php in aku, yang katamu
akan datang denganku ternyata kamu malah ikut ke bandung dengan orangtuamu..
tak apa sebenarnya, hanya saja tau sendiri lah pasti kecewa.. Jadilah aku pergi
dengan sahabatku dimalam itu.
Moment cari universitas.. kita dekat kembali. Kamu
perhatian, kamu sangat mendukungku, menyemangati aku yang ikut test ujian
masuk. Heranku kamu tidak tertarik ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Tanpa usaha apa-apa kamu terima saja masuk di universitas pak ahmad. Kamu
memilih jurusan di subyek yang termasuk kesukaanku.. Kamu memilih di fakultas
pendidikan, yang dalam pikiran orang kebanyakan pasti akan menjadi seorang
guru. Kamu jadi seorang guru? Pasti keren sekali, begitulah anganku waktu itu.
Tentang kita, bagian 4:
Kita sama-sama jadi mahasiswa baru sekarang,
setelah melewati proses ospek yang melelahkan. Tentu saja kita akan jarang
bertemu seperti dulu. Kampus kita pun tidak dekat. Kampusmu termasuk di kota,
kampusku berada di gamping, sleman. Kamu di universitas, dan aku di politeknik
kesehatan. Suasana baru, teman-teman baru, sensasi baru. Jadi mahasiswa di
tempatku kuliah tidaklah seperti yang kubayangkan. Betul-betul dengan jadwal
seperti sekolah SMA yang fullday. Yah.. beginilah kalau bukan di universitas.
Kita tetap berkomunikasi melalui hp. Bertemu
denganmu seminggu sekali saat weekend saja rutinnya, namun kadang-kadang tidak
harus saat weekend. Sempat ada masalah juga saat tahun awal jadi mahasiswa.
Kamu jadi kurang terbuka, terbukti saat aku stalk sosial media. Ada foto kamu
dan teman-teman barumu yang bermain bersama dan ada juga foto kamu yang hanya
berdua dengan gadis lain dan terlihat mesra. Sial, aku cemburu sekali saat itu.
Kecewa karena kamu tidak menceritakan padaku kegiatanmu, dan karena tingkahmu
di dalam foto itu. Selama kita berhubungan yang berarti sudah 3 tahun disaat
ini, kamu tak pernah berfoto selfie hanya benar-benar berdua dengan gadis lain
kecuali kakakmu. Dimulai darisitu kita merenggang. Rasanya kita hanya terbiasa bersama
saja. Walaupun masalah itu kemudian berhasil kita lalui. Menurut dari sisi
pandangku, kamu sudah berbeda.
Semester 2 dan 3 berlalu. Kita berhubungan baik.
Kamu selalu main kerumahku minimal seminggu sekali. Seperti sudah menjadi
kebiasaan. Singkatnya, di hampir penghujung semester 4.. Kuliahku memang menuntut
wajib praktik karena sekolah vokasional, karena itu, aku betul-betul disibukkan
saat praktik klinik tiba. Di PKK 2 ini, aku yang juga sibuk, kamu yang juga
sibuk persiapan UAS (yang aku tahu persis pasti tugas-tugasmu menumpuk di
akhir) benar terjadi. Kita tidak berkomunikasi selama seminggu. Benar-benar
tidak ada komunikasi. Saat aku mulai menyadari dan lelah menunggu. Aku
menghubungimu duluan. Kita bicarakan dan kita bertemu. Yang kebetulan karena
bulan ramadhan juga. Kita buka puasa bersama hanya dua kali. Kita bertemu dalam
sebulan juga mulai benar-benar minimal. Saat-saat krisis situasional seperti
inilah memang rentan. Setiap brtemu denganmu rasanya setelah kita bertemu tak
ada kesan apa-apa lagi. Kamu tak mau terbuka denganku, tak lagi dengan semangat
menceritakan dan berbagi kisah denganku. Aku dan kamu benar-benar hanya jadi
dua orang yang hanya karena kebiasaan saja bertemu. Aku dan kamu menurutku
sudah tidak ada/tidak mengerti apa yang ada dalam hati kita. Benar-benar tak
kurasakan spesialnya bersamamu. Tak banyak getar sayang yang dulu sungguh
terasa bila kita jumpa atau berkomunikasi. KAmu seolah hanya jadi teman biasa.
Yang mengetahui tentang aku hanya di permukaan.
Keadaan memburuk. semakin krisis kepercayaan,
krisis komunikasi, krisis segalanya tentang aku dan kamu, akhirnya hari itu
kita bertemu. Itupun aku yang menginginkan kejelasan tentang hubungan kita. Aku
betul-betul menunggu lama, hingga aku lelah dan aku yang mengajak kita bicara
serius duluan. Bertemulah kita, berbicaralah kita mengenai sudut pandang
masing-masing. Kamu bilang, kamu memang sengaja tidak menghubungiku, memang
sengaja tdak berkomunikasi denganku. Kamu mulai bilang lagi, hal yang dulu
sangat sakit jika kamu beritahu padaku,
ungkit lagi rasa pesimismu : Kita nantinya tak bisa bersama. Perbedaan-perbedaan
sifat serta pandangan kita pun kamu ungkapkan. Padahal dulunya itu bukan hal
yang kamu permasalahkan. Dulunya walau kita sangat berbeda sifat, kita saling melengkapi,
berbagi dan mengajarkan.
Saat aku menemuimu kali ini, aku memang sudah
berniat. Sudahi saja karena aku juga benar-benar lelah mempertahankanmu, yang
kamunya kurang menghargaiku. Benar-benar lelah menunggumu. Ekspetasiku yang
terlalu tinggi untukmu itu yang membuatku jadi sangat kecewa. Terjadilah .
Kuputuskan kuakhiri, aku yang memperjelas. Kamu yang mendukung. Kita selesai
sampai disini. Lega juga karena kita putus baik-baik. Begitulah akhirnya.
Tamat. Game over.
Kuranglebih seperti itulah versi singkatnya. Tak
mampu bila kukisahkan dengan detail, karena banyak yang telah terjadi. Versi
sudut pandangku. Sudah sebulan aku berakhir dengannya. Malam ini, 16 Agustus
2015 telah kuselesaikan. Akhirnya telah kutulis juga kuungkapkan lewat
kata-kata disini. Rasanya lebih lega. Aku tidak menangis sampai mataku sembab
seperti dulu. Aku hanya merasa lebih lega. Mengetahui kamu yang sekarang memang
sudah jadi seperti seorang yang tidak kukenal sebelumnya. Walaupun kita putus
baik-baik. Nyatanya sampai saat ini kamu tak menghubungiku. Ya sudah. Sesalku
kenapa saat kita putus justru aku membawamu ketempat favoritku, sambil memakan
makanan camilan favoritku juga. Di villa crepes, itulah saat terakhir aku
melihatmu langsung. Kapan lagi aku bertemu denganmu? Aku tak tau.
Pada akhirnya, tak pernah hati ini mampu menyalahkanmu sebagai cinta yang salah. Sebab, jika memang kamu suatu kesalahan, mengapa mencintaimu terasa begitu benar? Pada akhirnya, doa menjadi ungkapan paling sederhana dalam ukuran cinta yang tak mengenal angka - kolaborasirasa
Sebulan ini.. terkadang memang masih melintas kamu
dianganku, masih juga bermimpi tentangmu. Tak apa.. ini proses dan harus
kujalani. Setiap awal pasti ada akhirnya. Aku belajar banyak dari kamu juga.
Terimakasih atas semua kenangan yang kita buat. Aku mengakuimu sebagai cinta
yang paling terasa dimasa mudaku, dimasa remajaku. Aku menuliskan tentangmu
disini, yang mungkin tak akan pernah kamu ketahui. Aku benar-benar sudah merasa
lebih baik. Sekarang. Entah dengan siapa lagi. Aku telah pasrah. Yang
kupercayai, Tuhan pasti akan menggantikanmu dengan yang lebih baik.
Insyaallah.. Doaku untukmu , sesuai permintaan terkhirmu juga tak lupa kuadukan
pada Yang Maha membolak-balikkan hati. Semoga kita akan lebih baik lagi,
bertemu dengan keadaan yang lebih baik. :’) Maaf dan terimakasih.
~ aku yakin, keadaan akan sangat berbeda setelah
ini. Namamu nanti, akan terasa sangat biasa bila kudengar. Kenangan tentangmu,
sudah kujadikan pelajaran dan hanya akan
menjadi sebatas masa lalu. Kepada entah siapa masa depanku, jangan cemburu
dengan tulisan ini :’) Aku memang pernah menyayanginya. Tetapi pasti rasaku
padamu nanti, calon imamku, sepenuhnya padamu karena izin Allah juga. Aamiin.

0 komentar:
Posting Komentar