Assalamualaikum ^.^ Langsung saja, mungkin judul tersebut sudah mewakilkan hal yang ingin saya bahas. Berawal dari bercakap-cakap dan lagilagi ada seseorang yang melontarkan kalimat ini kepada saya. Beberapa orang yang saya jumpai mungkin tidak jarang mengucapkan "kamu beruntung" semacam itu kepada saya. Yah... alhamdulillah, jujur merasa senang juga karena saya dianggap beruntung. Sebagai manusia yang pasti memiliki rasa tak pernah merasa puas, dalam hati pernah berkata : saya beruntung ? Ah, sebenarnya tidak juga, saya rasa kamu juga beruntung. Nah -_-
Beruntung. Apa yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata "beruntung". Mungkin.. Sesuatu kejadian yang tak terduga dan menyenangkan, suatu yang didapat/dicapai dengan mudah, sesuatu yang membuat orang lain menginginkannya, suatu kondisi yang selalu di zona aman ? Hehe daripada penasaran ini definisi beruntung menurut KBBI
beruntung/ber·un·tung/ v 1 berlaba; mendapat laba: bagaimana dapat ~ kalau ongkos angkutnya saja sudah mahal sekali; 2 bernasib baik; mujur; bahagia: yang ~ dapat mengenyam pelajaran di bangku sekolah dengan cuma-cuma; 3 berhasil (maksudnya, usahanya, dan sebagainya); tidak gagal;
dan mungkin lebih tepatnya adalah kata keberuntungan :
keberuntungan/ke·ber·un·tung·an/ n 1 nasib; kemujuran: hanya mengandalkan ~ pada si kulit bundar; 2 keadaan beruntung; keberhasilan: saya ucapkan selamat atas ~ mereka mendapatkan kepercayaan dari pemerintah;
Baiklah, itu definisi beruntung menurut kbbi. Saya yang masih penasaran, coba-coba cari artikel mengenai orang yang beruntung, diutip dari blog http://open-mi.blogspot.co.id sebagai pengetahuan untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat ^^
Manusia yang Beruntung
1. Orang
yang beriman kepada Allah dan RosulNya, serta berjihad di jalan Allah dengan
Jiwa dan Harta.
Allah
berfirman, “ Hai orang-orang yang
beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu
dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan
memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan
(memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah
keberuntungan yang besar”. (Q.S As Shaaf ayat 10-12)
Dari
ayat ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwasannya untuk menjadi orang yang
mendapatkan kebahagiaan akhirat, satu syarat yang harus kita lakukan adalah
beriman secara total kepada Allah dan Rosul. Bahkan bentuk totalitas keimanan
tersebut, adalah dengan mengorbankan segala yang kita miliki, semuanya. Dalam
ayat diatas disebutkan berjihad dengan harta dan jiwamu, dimana disini Allah
menggunakan kata “dan” bukan “atau”, yang berarti pengorbanan kepada Allah
adalah bukan pilihan, tetapi kewajiban memberikan semua yang kita miliki
(tenaga, pikiran, harta) untuk Allah semata.
Tidak
bisa kita hidup berleha-leha, meninggalkan ibadah, jauh dari majelis ilmu,
menghambat perkembangan dakwah Islam, lalu untuk menebus kesalahan, kita infaq
yang besar, mengeluarkan zakat. Ini merupakan sebuah kekeliruan pemahaman. Bisa
jadi kita tidak mengalami keuntungan, tetapi malah kebuntungan di akhirat
kelak.
2. Orang yang mau berinfak
Didalam harta kita, terdapat hak Islam, orang fakir,
dan orang miskin. Sehingga memberikan sebagian harta kita untuk mereka,
merupakan amalan yang baik, yang dapat memberikan keuntungan bagi kita di
akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah,
“Maka berikanlah kepada kerabat
yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang
yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari
keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” (Q.S. Al-Rum
(30) : 38)
3.
Orang yang
terlindung dari sifat kikir
Dan ketika kita tidak
memberikan harta kita kepada yang berhak, maka kita termasuk orang-orang yang
rugi. “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman
(Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang
berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun
mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S.
Al-Hasyr (59) : 9)
4.
Orang mu’min
yang selalu beramal saleh
“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya,
maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang
ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. (Q.S. Al-Mu’minun (23) : 102-103)
5.
Orang yang
selalu ber amar ma’ruf dan nahi munkar
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran (3) : 104)
6.
. Orang yang
menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang
mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat
kebaikan. menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin
akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat
petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Q.S. Luqman (31) : 1-5)
Manusia sekarang ini, sering sekali
lalai terhdap perintah ini, walaupun umat Islam sendiri. Mereka beragama islam,
tetapi dalam keseharian, lebih mementingkan hawa nafsu dari pada aturan2 yang
ada di Al Qur’an. Misalkan, ketika tiba waktu sholat, masih banyak yang
melalaikannya dengan mementingkan pekerjaan. Ketika memiliki harta, tidak rela
menginfaqkan untuk kepentingan agama dan beramal, tetapi rela mengeluarkan uang
ketika ada arisan, pesta, membeli peralatan mewah, dsb. Orang-orang yang
demikian adalah orang-orang yang merugi, tetapi berbeda ketika menjadikan Al
Qur’an sebagai pedoman hidup dengan konsisten, maka orang-orang tersebut
tergolong orang2 yang beruntung.
7.
Bermanfaat untuk orang lain
Orang
yang bermanfaat bagi orang lain, di dalam Al Qur’an tergolong orang yang
beruntung, sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah orang-orang yang berharta serta
lapang hidupnya daripada kalangan kamu, bersumpah tidak mahu lagi memberi
bantuan kepada kaum kerabat dan orang miskin serta orang yang berhijrah pada
jalan Allah; dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan
kesalahan orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu?
Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (an-Nur:22)
8.
Orang yang
bertaubat
“Adapun orang yang bertobat dan
beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh, semoga dia termasuk orang-orang
yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr (28) : 67)
9.
Bijak menjaga masa
Masa bukanlah emas
atau pedang, tetapi masa adalah waktu kehidupan.
Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya yang bermaksud, “Demi Masa! Sesungguhnya
manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal soleh, dan
mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.”
(al-Asr:1-3)
Dalam firman Allah ini jelas membuktikan
betapa pentignya kita dalam mengatur
dan mengelola masa / waktu kehidupan. Kebijaksanaan dalam mengurus masa, mampu memberi kesan yang terbaik dalam kehidupan manusia. Masa / waktu kehidupan yang lampau, tidak akan ada gantinya, kerana masa
yang akan datang adalah masa yang berlainan.
Sesungguhnya kita telah menzalimi
diri sendiri apabila membiarkan masa berlalu begitu saja tanpa dimanfaatkan. Mungkin kita bisa menghitung waktu 24 jam kita digunakan untuk apa? Bilakah waktu yang kita gunakan untuk Allah, dan agama kita? Bilakah waktu
kita gunakan bersama keluarga? Bilakah kita
gunakan waktu untuk bekerja? Bilakah waktu kita gunakan bersama masyarakat? Bilakah waktu kita gunakan untuk belajar? Bilakah waktu kita
gunakan untuk makan? Bilakah waktu kita
gunakan untuk istirahat ?
Akhirnya, apakah jawaban yang kita
peroleh? Alangkah ruginya jika sepanjang 24 jam itu hanya dihabiskan untuk
berehat dan bersenang-senang
semata-mata. Kalau kita tahu, musuh yang paling utama dalam
pengurusan masa/waktu
kehidupan adalah tabiat suka bertangguh/menunda. Sebagaimana
kata Ibnu Umar, “Jika engkau berada di waktu petang, maka janganlah engkau
menunggu pagi, dan apabila berada pada waktu pagi janganlah engkau menunggu
petang. Gunakanlah dari sehat engkau bagi
sakit engkau dan dari hidup engkau bagi masa mati engkau.” Itulah masa, orang yang bisa mengelola masa adalah orang – orang yang
mendapat keuntungan yang besar.
Demikianlah saudara-saudaraku sekalian, bahwasannya Allah itu Maha
Besar, Maha Adil, Maha Rohim dan Rohman. Manusia yang memiliki sifat menginginkan
bahagia, difasilitassi oleh Allah, dengan diberikan aturan-aturan yang luar
biasa indah sesuai kodratnya dan hadiah yang sungguh tidak tertandingi kadar
kebahagiaannya, yaitu surga. Tetapi untuk mencapai tempat terindah tersebut,
manusia dikasih sebuah syarat, yang mana sudah dipaparkan diatas. Orang-orang
yang mampu melaksanakan syarat-syarat tersebut disebut oleh Allah sebagai
orang-orang yang beruntung. Dan semoga kita semua tergolong orang-orang yang
beruntung tersebut. Aamiin..