Senin, 18 Juli 2016

Mereka bilang saya beruntung :)

Edit Posted by with No comments
Assalamualaikum ^.^ Langsung saja, mungkin judul tersebut sudah mewakilkan hal yang ingin saya bahas. Berawal dari bercakap-cakap dan lagilagi ada seseorang yang melontarkan kalimat ini kepada saya. Beberapa orang yang saya jumpai mungkin tidak jarang mengucapkan "kamu beruntung" semacam itu kepada saya. Yah... alhamdulillah, jujur merasa senang juga karena saya dianggap beruntung. Sebagai manusia yang pasti memiliki rasa tak pernah merasa puas, dalam hati pernah berkata : saya beruntung ? Ah, sebenarnya tidak juga, saya rasa kamu juga beruntung. Nah -_-

Beruntung. Apa yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata "beruntung". Mungkin.. Sesuatu kejadian yang tak terduga dan menyenangkan, suatu yang didapat/dicapai dengan mudah, sesuatu yang membuat orang lain menginginkannya, suatu kondisi yang selalu di zona aman ? Hehe daripada penasaran ini definisi beruntung menurut KBBI

beruntung/ber·un·tung/ v 1 berlaba; mendapat laba: bagaimana dapat ~ kalau ongkos angkutnya saja sudah mahal sekali; 2 bernasib baik; mujur; bahagia: yang ~ dapat mengenyam pelajaran di bangku sekolah dengan cuma-cuma; 3 berhasil (maksudnya, usahanya, dan sebagainya); tidak gagal;

dan mungkin lebih tepatnya adalah kata keberuntungan :

keberuntungan/ke·ber·un·tung·an/ n 1 nasib; kemujuran: hanya mengandalkan ~ pada si kulit bundar; 2 keadaan beruntung; keberhasilan: saya ucapkan selamat atas ~ mereka mendapatkan kepercayaan dari pemerintah;

Baiklah, itu definisi beruntung menurut kbbi. Saya yang masih penasaran, coba-coba cari artikel mengenai orang yang beruntung, diutip dari blog http://open-mi.blogspot.co.id sebagai pengetahuan untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat ^^

Manusia yang Beruntung
1.      Orang yang beriman kepada Allah dan RosulNya, serta berjihad di jalan Allah dengan Jiwa dan Harta.
Allah berfirman, “ Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar”.  (Q.S As Shaaf ayat 10-12)
Dari ayat ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwasannya untuk menjadi orang yang mendapatkan kebahagiaan akhirat, satu syarat yang harus kita lakukan adalah beriman secara total kepada Allah dan Rosul. Bahkan bentuk totalitas keimanan tersebut, adalah dengan mengorbankan segala yang kita miliki, semuanya. Dalam ayat diatas disebutkan berjihad dengan harta dan jiwamu, dimana disini Allah menggunakan kata “dan” bukan “atau”, yang berarti pengorbanan kepada Allah adalah bukan pilihan, tetapi kewajiban memberikan semua yang kita miliki (tenaga, pikiran, harta) untuk Allah semata.
Tidak bisa kita hidup berleha-leha, meninggalkan ibadah, jauh dari majelis ilmu, menghambat perkembangan dakwah Islam, lalu untuk menebus kesalahan, kita infaq yang besar, mengeluarkan zakat. Ini merupakan sebuah kekeliruan pemahaman. Bisa jadi kita tidak mengalami keuntungan, tetapi malah kebuntungan di akhirat kelak.

2.      Orang yang mau berinfak
Didalam harta kita, terdapat hak Islam, orang fakir, dan orang miskin. Sehingga memberikan sebagian harta kita untuk mereka, merupakan amalan yang baik, yang dapat memberikan keuntungan bagi kita di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah,
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.”  (Q.S. Al-Rum (30) : 38)
3.      Orang yang terlindung dari sifat kikir
Dan ketika kita tidak memberikan harta kita kepada yang berhak, maka kita termasuk orang-orang yang rugi. “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”   (Q.S. Al-Hasyr (59) : 9)
4.      Orang mu’min yang selalu beramal saleh
“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. (Q.S. Al-Mu’minun (23) : 102-103)
5.      Orang yang selalu ber amar ma’ruf dan nahi munkar
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”  (Q.S. Ali Imran (3) : 104)
6.      . Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”  (Q.S. Luqman (31) : 1-5)
Manusia sekarang ini, sering sekali lalai terhdap perintah ini, walaupun umat Islam sendiri. Mereka beragama islam, tetapi dalam keseharian, lebih mementingkan hawa nafsu dari pada aturan2 yang ada di Al Qur’an. Misalkan, ketika tiba waktu sholat, masih banyak yang melalaikannya dengan mementingkan pekerjaan. Ketika memiliki harta, tidak rela menginfaqkan untuk kepentingan agama dan beramal, tetapi rela mengeluarkan uang ketika ada arisan, pesta, membeli peralatan mewah, dsb. Orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang merugi, tetapi berbeda ketika menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dengan konsisten, maka orang-orang tersebut tergolong orang2 yang beruntung.
7.      Bermanfaat untuk orang lain
Orang yang bermanfaat bagi orang lain, di dalam Al Qur’an tergolong orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya daripada kalangan kamu, bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum kerabat dan orang miskin serta orang yang berhijrah pada jalan Allah; dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (an-Nur:22)
8.      Orang yang bertaubat
“Adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung.”  (Q.S. Al-Hasyr (28) : 67)
9.      Bijak menjaga masa
Masa bukanlah emas atau pedang, tetapi masa adalah waktu kehidupan. Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya yang bermaksud, “Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.” (al-Asr:1-3)
 Dalam firman Allah ini jelas membuktikan betapa pentignya kita dalam mengatur dan mengelola masa / waktu kehidupan. Kebijaksanaan dalam mengurus masa, mampu memberi kesan yang terbaik dalam kehidupan manusia. Masa / waktu kehidupan yang lampau, tidak akan ada gantinya, kerana masa yang akan datang adalah masa yang berlainan.
Sesungguhnya kita telah menzalimi diri sendiri apabila membiarkan masa berlalu begitu saja tanpa dimanfaatkan. Mungkin kita bisa menghitung waktu 24 jam kita digunakan untuk apa? Bilakah waktu yang kita gunakan untuk Allah, dan agama kita? Bilakah waktu kita gunakan bersama keluarga? Bilakah kita gunakan waktu untuk bekerja? Bilakah waktu kita gunakan bersama masyarakat? Bilakah waktu kita gunakan untuk belajar? Bilakah waktu kita gunakan untuk makan? Bilakah waktu kita gunakan untuk istirahat ?
Akhirnya, apakah jawaban yang kita peroleh? Alangkah ruginya jika sepanjang 24 jam itu hanya dihabiskan untuk berehat dan bersenang-senang semata-mata.  Kalau kita tahu, musuh yang paling utama dalam pengurusan masa/waktu kehidupan adalah tabiat suka bertangguh/menunda. Sebagaimana kata Ibnu Umar, “Jika engkau berada di waktu petang, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan apabila berada pada waktu pagi janganlah engkau menunggu petang. Gunakanlah dari sehat engkau bagi sakit engkau dan dari hidup engkau bagi masa mati engkau.” Itulah masa, orang yang bisa mengelola masa adalah orang – orang yang mendapat keuntungan yang besar.

Demikianlah saudara-saudaraku sekalian, bahwasannya Allah itu Maha Besar, Maha Adil, Maha Rohim dan Rohman. Manusia yang memiliki sifat menginginkan bahagia, difasilitassi oleh Allah, dengan diberikan aturan-aturan yang luar biasa indah sesuai kodratnya dan hadiah yang sungguh tidak tertandingi kadar kebahagiaannya, yaitu surga. Tetapi untuk mencapai tempat terindah tersebut, manusia dikasih sebuah syarat, yang mana sudah dipaparkan diatas. Orang-orang yang mampu melaksanakan syarat-syarat tersebut disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang beruntung. Dan semoga kita semua tergolong orang-orang yang beruntung tersebut. Aamiin..